Selamat Ulang Tahun

Belakangan dia sering tanya ke aku, “bisa ga ya aku?“. Bukan tanpa alasan dia meragu, tapi karena memang apa yang dijalani kini sudah tidak sama seperti dulu. Tapi melihat dia yang selalu tanggung jawab dan mengusahakan yang terbaik yang dia bisa untuk semua keputusan yang telah diambil, dia yang selalu menguatkan hati dan tekad di saat-saat berat, dia yang selalu peduli dengan orang-orang terdekat sampai kadang lupa kalau sendirinya juga punya hati, rasanya bukan tanpa alasan pula kalau aku selalu menjawab bahwa dia mampu dan akan selalu begitu. “Pasti bisa kok“, begitu kataku. Percaya bahwa apa yang menjadi tanggung jawabnya kini turut mendewasakannya, bahkan juga mendewasakan aku dan hubungan kami.

Pernah ada marah karena egoku, pernah ada maaf yang mengikuti. Sadar bahwa ternyata rasa ingin bersama jauh lebih besar dari ego itu sendiri. Satu yang pasti, seperti yang pernah jadi janji, bahwa walaupun aku tidak secara langsung ikut menjalani, tapi setiap dia pulang, dia tahu kalau aku akan selalu ikut tersenyum waktu dengar ceritanya tentang hari ini, mimpi-mimpinya, atau bahkan apa saja.

Terima kasih ya, sudah lahir di bumi. Dari 27 tahun yang sudah dilalui, terima kasih karena selama setahun terakhir sudah memilih untuk mencukupkan aku dan merasa cukup hanya karena kehadiranku. Terima kasih sudah selalu menjaga, menemani, membagi energi baik, dan menjadi teman bicara juga berbagi rasa yang terbaik. Semoga selamanya selalu seperti itu.

Doa terbaikku untuknya, semoga selalu dikuatkan dan ditenangkan hatinya, semoga semuanya selalu lebih baik dalam segala aspek kehidupannya.

Selamat ulang tahun, sayang.

Di Gelato Secrets

Terletak tidak jauh dari pusat kota Jakarta, membuat kita tidak susah untuk dapat menjangkaunya. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi bisa memberimu ruang yang nyaman untuk duduk berlama-lama di sofa hijau di salah satu sudutnya. Di jam-jam tertentu, akan ramai pelanggan yang berlalu lalang, tapi suasananya akan tetap membuatmu tenang. Jauh dari kesan fancy yang mungkin coba ditawarkan melalui dekorasinya, duduk disini justru selalu mengingatkan aku tentang rasanya menikmati waktu, melalui kenyamanan suasananya juga pengalaman-pengalaman dan perbincangan-perbincangan yang pernah aku alami secara pribadi selama menghabiskan waktu di dalamnya.

Disini kamu bisa menikmati gelato dengan berbagai pilihan rasa; green tea, bamboo charcoal, atau apapun yang kamu suka. Kalau kamu masih ragu, jangan khawatir karena staf disini akan dengan ramahnya memberikan rekomendasi pilihan rasa yang mungkin akan sesuai dengan selera. Biasanya playlist lagu yang menjadi latar belakang suara membuat aku enggan untuk menggunakan headset karena terlanjur terbawa suasana, mulai dari Coldplay sampai Maliq & D’Essentials rasanya pernah aku dengar selama duduk disini. Kamu bisa duduk bersama teman-teman dekat setelah pulang bekerja atau di sore yang syahdu di akhir pekanmu, sambil bercerita tentang hal-hal menarik yang kalian alami beberapa hari belakangan ini. Atau, tidak masalah kalau kamu sedang ingin duduk sendiri sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda, sekedar menulis, atau membaca tulisan-tulisan yang kamu suka. Tapi nanti kalau kamu ada waktu, itupun kalau kamu mau, kita bisa duduk bersama lagi disini, bicara tentang apa saja.

Cukup

Kalau kita terus menerus mengikuti apa yang kita mau dan bukan yang kita butuh, mungkin tidak akan pernah ada habisnya. Kakakku pernah bilang, katanya aku itu senang menyenangkan orang lain tapi berpikir dua kali kalau ingin menyenangkan diri sendiri. Bagi aku, alasannya bukan karena tidak mau. Seringnya, aku merasa belum butuh saja.

Semenjak banyak membaca tentang konsep minimalist living, aku memutuskan untuk lebih fokus terhadap apa yang menjadi kebutuhanku dan seberapa besar urgensinya bagi aku. Seperti yang pernah dipesankan oleh Ibuku, hidup itu sederhana tapi pantas. Dan selalu merasa cukup serta tidak berlebihan adalah kuncinya. Alhamdulillah masih merasa cukup dengan sepatu dan tas yang itu-itu saja, skincare yang biasa saja, pun lipstick dan parfume yang tidak lebih dari satu jenisnya. Alasannya, karena memang masih sebatas itu yang aku butuhkan.

Kalau kata tulisan yang pernah aku baca, ‘kadang cukup itu lebih dari cukup’. Sampai sekarang, masih selalu menjadi pengingat setiap kali aku merasa kurang akan sesuatu.

Karena dengan merasa cukup, aku merasa tenang dan nyaman. Karena dengan tidak berekspektasi terhadap standar yang sebenarnya tidak aku butuhkan walaupun mungkin aku inginkan, aku bisa terus bertumbuh agar tetap dapat mencukupkan diri dengan tepat di saat yang tepat nanti. Oleh karenanya, merasa cukup bukan berarti menjadi stagnan atau berhenti berusaha menjadi lebih baik lagi.

Maka, terima kasih karena sudah selalu mencukupkan, terima kasih karena sudah selalu membuat merasa cukup. Dan semoga kita selalu didekatkan dengan orang-orang yang dapat saling mencukupkan.

Alhamdulillah.

Katanya Krisis Hidup Seperempat Abad

Akhir-akhir ini aku sering merasa seperti tidak fokus dengan apa yang sedang aku kerjakan. Pernah aku sudah masuk ke dalam lift di kantor ketika akan pulang ke rumah. Waktu itu, laju lift dari lantai 19 ke lantai dasar rasanya memang lebih lama dari biasanya. Ketika pintu lift terbuka, ternyata aku masih di lantai 19. Baru sadar kalau aku lupa memencet tombol G (he he).

Kenapa ya?

Malam itu, sepanjang perjalanan pulang pikiranku menerawang kemana-mana. Tentang ragu yang aku rasakan hampir setiap harinya, yang membuat aku bertanya-tanya apakah yang aku berikan sudah sesuai dengan apa yang aku dapatkan. Tentang sepi yang aku rasakan ketika sedang sendiri atau tidak bersama teman-teman baik, yang membuat aku akhirnya justru memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan menjadi tidak produktif. Tentang belum adanya seseorang yang bisa diandalkan oleh diri, yang akan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Semua itu akhirnya membawa aku ke sebuah pertanyaan, sebenarnya apa yang aku cari dalam hidup ini? Inikah yang katanya krisis hidup seperempat abad?

Pernah beberapa kali menceritakan hal ini kepada orang-orang terdekat. Salah satu temanku bilang kalau setiap individu secara natural akan mengalami fase kehidupan ini, jadi nikmati saja jalan yang harus dilewati, kamu tidak sendiri katanya. Tapi tidak sedikit yang bilang bahwa jawabannya mungkin sesederhana lebih banyak bersyukur setiap hari. Sampai suatu malam setelah hari itu, tiba-tiba aku merasakan ketenangan dalam hati. Keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan apa yang menjadi doa-doaku. Disegerakan, ditunda, atau diganti dengan yang lebih baik. In shaa Allah. Karena tidak mungkin Allah ingkar janji.

Mungkin masih ada ragu setiap hari, mungkin masih ada sepi ketika sedang sendiri, pun belum ada seseorang yang bisa diandalkan oleh diri. Tapi sabar, tenang, dan percaya saja. Mungkin memang seperti ini jalannya.

Memberi Kebaikan dan Diberi Kebaikan

Pernah tidak kepikiran ‘kan saya sudah berbuat baik ke dia, tapi kenapa ya dia tidak baik ke saya’.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah terlibat dalam diskusi ringan tentang hal ini dengan seorang teman. Sederhananya, sering kami merasa sudah rela berkorban untuk sekedar membuat orang lain merasa diperhatikan di hari bahagianya, tapi orang lain ingat hari bahagianya kita saja tidak (he he). Semua itu karena setiap orang punya prioritasnya masing-masing. Ada yang mungkin prioritasnya adalah untuk memberikan kebaikan ke semua orang di sekitarnya, ada yang mungkin akan memberikan kebaikan untuk orang-orang yang menjadi prioritasnya.

Saya jadi ingat, bagaimana karib saya semasa kuliah, Maya dan Cynthia, tahun lalu meluangkan waktu dan tenaganya jauh-jauh dari Semarang ke Jakarta hanya untuk datang di hari bahagia saya. Atau kemarin ketika saya diingatkan kembali, bagaimana senangnya melihat keluarga atau teman merasa senang dan diperhatikan. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, kita yang membuat mereka senang.

Semua itu akhirnya membawa saya ke sebuah kesimpulan. Bahwa walaupun dalam hidup prinsipnya adalah take and give, tapi kalau mau berbuat baik ya berbuat baik saja. Ikhlas dan tanpa pamrih. Kalau tidak dibalas dengan kebaikan, ya anggap saja mungkin kita bukan prioritasnya. Ingat lagi, bahwa segala hal di dunia ini tidak harus selalu tentang kita. Siapa tau tanpa sengaja kita juga pernah mengabaikan kebaikan yang orang lain berikan kepada kita. Tapi percaya deh, setiap kebaikan yang kita lakukan pasti akan dibalas dengan kebaikan pula. Mungkin bukan oleh orang yang sama, mungkin bukan langsung kepada kita, yang paling tidak terduga mungkin suatu saat akan dibalaskan kepada orang-orang yang kita sayang. In shaa Allah.

23 Tahun

Saya sedang duduk sendiri di artisan gelato favorit saya. Hari ini mungkin kesempatan bagi saya untuk memberi waktu bagi diri saya sendiri, sambil merefleksikan apa saja yang sudah kita jalani selama setahun belakangan ini.

Tahun ini, saya bersyukur sekali karena kamu sudah diberikan banyak kesempatan baru. Walaupun beberapa membuat kamu berkali-kali berpikir takut salah dalam mengerjakan hal-hal itu. Tapi berkali-kali pula kamu disadarkan bahwa ternyata apa yang bisa kamu kerjakan lebih dari ketakutan dan keraguan yang sudah mengecilkanmu sendiri. Lega karena kamu masih bisa memberi manfaat untuk sekitar, seberapa besar atau kecil pun itu. Walaupun tidak jarang gagal ketika sudah berusaha maksimal, tapi kamu harus yakin bahwa porsi masing-masing individu di dunia ini sudah diatur dari sananya dan setiap individu pasti baik di bidangnya.

Tahun ini, saya bersyukur pula atas segala kebaikan yang kamu dapatkan dalam hidup setiap harinya. Tentang keluarga yang selalu mendukung di perjalanan yang menanjak dan menurun. Tentang teman-teman baik yang sudah banyak membantu, menemani, dan meyakinkan bahwa kamu tidak sendiri dalam menjalani fase kehidupan ini.

Hari ini, saya ingin kamu tahu bahwa satu tahun ini sudah kamu lalui sebaik yang kamu mampu. Terima kasih sudah berusaha menyelesaikan tanggung jawabmu dengan sebaik-baiknya. Terima kasih sudah berusaha menyelesaikan permasalahanmu sendiri ketika memang bisa diselesaikan tanpa meminta bantuan kepada orang lain. Terima kasih sudah melapangkan hati ketika mulai sesak. Terima kasih sudah menguatkan tekad ketika hidup membawamu naik atau turun. Terima kasih sudah percaya akan dirimu jauh sebelum mereka percaya akan kamu.

Satu tahun ke depan, saya berdoa semoga kamu masih selalu diberikan kesempatan baru. Semoga bisa membawa manfaat untuk sekitar, mendapat kesempatan untuk melakukan segala hal yang kamu cita-citakan, dan semakin berani untuk mengalahkan semua rasa takut dan ragumu.

Satu tahun ke depan, jika keraguan kembali muncul lagi, ingatkan diri sendiri untuk tidak berhenti. Karena mungkin jawabannya adalah mensyukuri dan ikhlas menjalani semua kesempatan yang ada di depan mata. Bahwa ‘this shall pass so just keep on moving’.

Satu tahun ke depan, kita coba bikin yang lebih baik lagi.